Dilema Backpacker Indonesia di Tengah Badai Global: Antara Jiwa Muda dan Dompet yang Menjerit

### Ketika Dompet Menjerit, Tapi Jiwa Ingin Mengembara: Dilema Backpacker Indonesia di Tengah Badai Global

Sebagai seorang backpacker yang terbiasa hidup dari *hostel* ke *hostel* dan makan di *street food* lokal, saya sering ditanya, “Masih bisa jalan-jalan di tengah kondisi dunia yang kayak gini?”

Jujur saja, jawabannya: *Bisa, tapi harus lebih kreatif dan siap “berdarah-darah” secara mental.*

Tiga tahun terakhir ini terasa seperti *roller coaster* bagi kita, para penikmat perjalanan. Perang di berbagai belahan dunia, ketidakpastian ekonomi global, hingga fluktuasi kurs mata uang yang sering bikin serangan jantung mendadak, semuanya punya andil besar dalam cara kita mengatur rencana liburan.

#### Kurs yang “Berdosa”
Bagi backpacker Indonesia, musuh utama kita bukanlah cuaca buruk, melainkan nilai tukar Rupiah. Saat kurs Rupiah melemah terhadap Dolar atau Euro, harga tiket pesawat, akomodasi, hingga *tour* lokal langsung melambung. Sensasi “murah” yang dulu kita cari di Asia Tenggara atau Eropa Timur sekarang terasa jauh lebih mahal. Kadang, saya harus menghabiskan waktu berjam-jam di aplikasi *budget tracker* hanya untuk memastikan apakah saya bisa menambah satu malam lagi di hostel atau harus segera terbang pulang.

#### Dilema Generasi: Muda tapi… Cemas
Di sinilah letak kegalauan kita sebagai *traveler* asal Indonesia. Kita hidup di era di mana *Fear of Missing Out* (FOMO) digempur oleh konten media sosial. Kita melihat teman-teman sebaya bisa *flash traveling* ke Jepang, Korea, atau Eropa.

Ada rasa ganjal di hati: **”Duh, mumpung masih muda dan fisik masih kuat, kenapa nggak jalan sekarang?”**

Di sisi lain, ada realita pahit: tabungan kita seringkali dipaksa berkompromi dengan kurs yang tidak stabil dan biaya hidup yang terus naik. Kita berada di fase “bisa, tapi harus mengorbankan kenyamanan.” Kita sering kali harus memilih: antara tidur di bandara demi hemat tiket, atau makan mi instan tiga hari berturut-turut supaya bisa bayar tiket masuk museum yang harganya naik dua kali lipat.

#### Tetap Jalan, Meski Harus “Flash”
Apakah perang dan kondisi global menghentikan saya untuk membeli tiket? Tentu tidak. Tapi, strategi saya berubah.

Saya tidak lagi *booking* dadakan. Saya menjadi lebih “pelit” pada hal-hal yang tidak krusial. Saya mulai melirik destinasi yang kursnya lebih bersahabat dengan Rupiah atau yang tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak konflik global. Saya belajar bahwa *backpacker* bukan hanya soal keberanian, tapi soal manajemen risiko.

Kegilaan muda adalah aset. Saat kita muda, kita memang punya energi tak terbatas, tapi seringkali kekurangan modal. Namun, di situlah seni *traveling* yang sebenarnya. Saat kita berhasil menaklukkan sebuah negara dengan anggaran yang sangat ketat di tengah situasi dunia yang kacau, ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa dibeli dengan tiket pesawat kelas bisnis.

Jadi, bagi kalian yang sedang galau karena kondisi dunia, tenang saja. Dunia tidak akan berhenti berputar, dan pintu-pintu petualangan akan selalu terbuka bagi mereka yang mau sedikit bersabar dan banyak berhitung. Kita tetap bisa menjelajah, meski harus menahan ego demi menjaga saldo tetap aman.

*Keep traveling, keep calculating.* Karena pada akhirnya, cerita perjalanan yang paling berharga biasanya datang dari perjuangan saat kondisi sedang sulit-sulitnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *